Suasana di arena pertarungan semakin menegang, para murid yang menyaksikan memandang tidak berkedip. Tatapan semua murid terpaku pada satu titik. Pusaran bayangan terus bergerak liar, seperti tak memberi ruang sedikit pun untuk bernapas. Beberapa dari mereka mulai menggeleng, yakin Lynx tak mungkin bisa selamat tanpa luka dari teknik itu.

Deng Wei yang melihatnya merasa cemas, tubuhnya keluar keringat dingin. "Bagaimana aku harus menjelaskan kepada Leluhur dan tetua nantinya jika Xiao Ling terluka? Hanya bisa pasrah menerima hukuman."

Namun saat semua gerakan berhenti dan pusaran bayangan menghilang satu per satu, debu mulai mengendap perlahan... dan di tengah lapangan, Lynx masih berdiri.

Para murid melihat Xiao Ling melompat ringan ke belakang untuk menghindari serangan ratusan bayangan ranting yang menyerangnya, lalu dia kembali berdiri tegak, menunduk sedikit dengan sikap sopan yang sama seperti sebelumnya. Namun yang mengherankan para murid, wajah Xiao Ling tetap tenang.

"Terima kasih lagi atas pelajaran dari Senior Zhu Rui," ucapnya santai, tanpa sedikit pun nada mengejek. "Jurus yang luar biasa. Untungnya senior tidak mengenakannya langsung padaku."

"Hah...?!"

Wajah Zhu Rui langsung berubah. Matanya membelalak, napasnya tersendat. Ia menatap Lynx seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dalam pikirannya, jurus barusan meski tanpa qi spiritual mustahil bisa dihindari. Bahkan kultivator dengan tingkat yang sepadan dengannya akan terguncang hebat. Tapi pemuda di depannya?

Dia berdiri di sana, seakan-akan serangan itu hanya angin lalu yang tak layak disebut bahaya.

Zhu Rui belum sempat membuka mulut ketika Lynx tiba-tiba menoleh dengan tenang dan menunjuk ke arah sisi lapangan.

"Maaf, Senior. Kalung Anda jatuh. Mungkin tadi belum sempat Anda ikat dengan benar."

Nada bicaranya ringan, hampir seperti sedang menyampaikan sesuatu yang sepele. Tapi ucapan itu membuat dahi Zhu Rui langsung mengerut. Ia mengikuti arah telunjuk Lynx, dan di sana, tepat di tanah berdebu, tergeletak sebuah kalung. Liontin batu hitamnya sedikit berkilau terkena cahaya matahari.

Warna wajah Zhu Rui langsung memucat.

Dengan cepat ia melangkah mendekat dan memungut kalung itu. Begitu tangannya menyentuhnya, tubuhnya menegang. Ia memeriksa bagian talinya... dan saat menyadari kenyataan yang tampak jelas di depan matanya, darah di wajahnya seolah mengalir ke kaki.

Tali itu bukan lepas karena simpul yang longgar, tapi terputus. Dan bukan sembarang putus, bekasnya halus, bersih, sempurna. Potongannya nyaris tak mungkin dihasilkan oleh apa pun selain tebasan pedang yang sangat tajam... dan sangat cepat.

Wajah Zhu Rui berubah kaku. Tangannya menggenggam kalung itu erat, telapak tangannya basah oleh keringat dingin yang mulai merembes dari pelipis. Ia berdiri terpaku, tak bergerak. Dia sangat yakin tidak melihat Xiao Ling bergerak, bahkan dia masih merasa bingung bagaimana Xiao Ling bisa menghindari serangannya tanpa terluka, karena sebelumnya dia sudah memikirkan alasan yang tepat seandainya para tetua atau leluhur memarahinya karena melukai tamu mereka.

Ia menelan ludah. Tubuhnya terasa dingin.

"Kalau potongan itu meleset sedikit saja..."

Kata-kata itu hanya tersisa dalam pikirannya, tak sempat diucapkan. Dadanya terasa sesak. Dunia di sekelilingnya mendadak terasa hening, seperti semua suara meredam, tertelan kesadaran baru yang datang menghantam.

Untuk pertama kalinya, Zhu Rui benar-benar menyadari satu hal yang menakutkan.

Bukan hanya jurusnya tak mampu menyentuh Xiao Ling. Tapi Xiao Ling, dengan kecepatan dan ketepatan luar biasa, telah menyentuh dirinya, dan memilih untuk tidak membunuh.

Ia menggigil. Perasaan dingin menjalari tulang punggungnya, menusuk sampai ke sumsum. Apa yang awalnya ia anggap hanya anak muda angkuh, tukang rayu wanita, kini berdiri di hadapannya sebagai sosok yang tak bisa dia ukur... tak bisa dia duga. Kini dia memahami kenapa leluhur Sekte Api Langit sangat menghargainya. Dia tidak boleh memprovokasi orang seperti ini.

"Senior, terima kasih atas pelajarannya."

Suara Lynx terdengar lembut, penuh ketenangan. Ia melangkah pelan, lalu mengulurkan pedangnya ke arah Deng Wei.

"Sekte Api Langit memang luar biasa. Terutama kemurahan hati Senior yang bersedia membuka mataku akan banyak hal. Karena aku sedang terburu-buru, bisakah aku menemui Leluhur sekarang?"

Zhu Rui hanya bisa mengangguk cepat, bahkan senyumnya pun tak mampu menyembunyikan kekakuan di wajahnya.

"Iya... iya... Deng Wei, antarkan Xiao Ling dan temannya ke hadapan Leluhur."

Suara Zhu Rui serak, nadanya jauh lebih lembut dari sebelumnya, dan untuk pertama kalinya, tanpa rasa sombong.

Deng Wei menerima kembali pedangnya dengan kedua tangan. Ia sedikit membungkuk, wajahnya memancarkan kegugupan. Sorot matanya gelisah, pikirannya kalut, dan langkahnya tampak berat saat ia berbalik untuk memimpin jalan.

Tanpa banyak bicara, ia segera mengarahkan Lynx dan Rira menuju ruangan leluhur sekte.

Setelah berjalan beberapa langkah, Deng Wei menundukkan kepala dan berbicara lirih, suaranya dipenuhi rasa bersalah.

"Maafkan kejadian tadi, Xiao Ling. Kumohon, jangan laporkan kami ke Leluhur. Senior hanya ingin bercanda, dia sama sekali tidak berniat menyakitimu."

Lynx tersenyum tenang. Ia mengangkat tangan dan menepuk bahu Deng Wei dengan lembut, seolah menenangkan adik seperguruannya.

"Tak perlu khawatir," ucapnya ringan, nada suaranya bersahabat namun tenang seperti angin musim gugur. "Senior Zhu Rui orang yang baik, dan aku tidak akan mengatakan hal buruk tentang kalian. Aku mengerti. Dia hanya ingin memperlihatkan kehebatan sekte kalian agar aku mengetahuinya. Terbukti dia tidak melukaiku."

Deng Wei mengangguk cepat. Meski kekhawatiran masih terlihat di matanya, ia sedikit lebih lega. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju aula utama, tempat Leluhur Sekte biasanya menerima tamu-tamu penting. Di belakang mereka, Rira mengikuti dengan langkah pelan. Sebuah senyum tipis bermain di sudut bibirnya, dan tatapan matanya mengamati setiap detail interaksi tadi dengan penuh perhatian.

Sementara itu, di area latihan, suasana perlahan kembali hidup. Para murid yang semula menonton kini kembali ke posisi mereka masing-masing. Suara dentingan senjata mulai terdengar lagi, menyatu dengan teriakan semangat dan langkah kaki di atas tanah. Meski mereka telah kembali berlatih, sisa dari kejadian barusan masih tersisa dalam percakapan kecil di antara mereka.

"Padahal aku benar-benar yakin dia bakal terkapar tadi," gumam salah satu murid dengan nada kecewa, menyeka keringat dari dahinya.

"Senior Zhu Rui biasanya tak pernah menahan diri seperti itu. Kurasa dia beruntung saja karena dia tamunya Leluhur. Bukankah Leluhur memang meminta agar Xiao Ling langsung diantar menemuinya begitu datang?" ujar seorang murid lain sambil melirik ke arah aula utama.

"Benar, aku juga dengar begitu. Tapi bisa jadi tadi, selain karena senior Zhu Rui menahan diri, Xiao Ling juga menggunakan artefak tingkat tinggi untuk melindungi tubuhnya. Jadi walau dia masih di tahap Qi Forging, terkena serangan dari senior membuatnya masih mampu bertahan tanpa ada terluka. Serangan dari dua jurus Senior Zhu Rui sangat kuat," sambung temannya dengan penuh keyakinan.

Namun tak semua murid setuju dengan pendapat itu. Seorang murid perempuan, yang sejak tadi mengamati dengan lebih seksama, mengerutkan kening dan menyimpan keraguan dalam hatinya.

"Tapi... sepertinya bukan hanya karena itu," batinnya sambil menatap kosong ke arah tempat Lynx berdiri tadi. "Rasanya seperti... dia juga sengaja menahan diri saat menghadapi senior. Gerakannya terlalu tenang, terlalu tepat."

Ia menggenggam ujung lengan bajunya, matanya berkilat penuh tekad. Bayangannya kembali saat sekte menerima kunjungan dari berbagai pihak karena turut berkabung kematian Ketua Sekte Api Langit, bagaimana sikap Leluhur terhadap Xiao Ling, masih terlihat jelas karena dia yang mendapat tugas melayani keperluan Xiao Ling saat itu.

"Aku akan mendekatinya suatu saat nanti. Ada sesuatu dalam dirinya yang tak bisa dijelaskan. Leluhur pun memperlakukannya dengan sangat hormat... pasti ada alasan di balik semua itu."

Bisik-bisik kecil itu terus terdengar di antara deru senjata dan napas berat latihan. Nama Xiao Ling, yang sebelumnya nyaris tak dikenal, kini mulai bergaung pelan namun pasti di antara para murid sekte. Dan satu hal mulai menjadi jelas, ia bukan seseorang yang akan dilupakan begitu saja.

